Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

KESEDIHAN




Pandanganku pada langit tua. Cahaya bintang berkelap kelip mulai hilang oleh kesunyian malam.  Aku berjalan menyusuri lorong malam sepi nan gelap. Cahaya bulan malam ini begitu indahnya. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Konflik dengan orang tua karena tidak lulus sekolah. Hari ulang tahun yang gagal di rayakan. Dan hadiah sepeda motor yang terpaksa di kubur dalam-dalam karena tak lulus, belum lagi si adik yang menyebalkan. Teman-teman yang konvoi merayakan kemenangan, sedang aku?
Hari-hari yang keras kisah cinta yang pedas. Angin malam berhembus menebarkan senyumku walau sakit dalam hati mulai mengiris. Sesekali aku menghapus air mataku yang jatuh tanpa permisi. Sakit memang putus cinta.
 Rasanya beberapa saat lalu, aku masih bisa mendengar kata-kata terakhirnya yang tergiang-ngiang merobek otak ku.
“sudah sana… Kejarlah keinginanmu itu!, kamu kira aku tak laku, jadi begini sajakah caramu, oke aku ikuti.. Semoga kamu tidak menyesal menghianati cinta suci ini.” beberapa kata yang sempat masuk ke hpku, di ikuti telpon yang sengaja ku matikan karena kesal atau muak.
Aku termenung di pinggir jalan, memegang kepalaku yang sakit.
“selamat malam..? Sorii mba kayanya lagi sedih banget boleh aku minta duitnya..” seorang pemabuk dengan botol bir di tangan kiri dengan jalan yang tak beraturan,
 Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dan mengancamku. Aku hanya terdiam tak berkata, membuatnya sedikit binggung. Aku meraih tas di sampingku dan menyerahkan padanya. “ini ambil semua.. Aku tak butuh semua ini. Aku hanya ingin mati…!” Aku melemparkan tas ke hadapannya yang di sambut dengan senyum picik dan iapun menghilang di gelapnya malam.
Aku bangkit berdiri dan berjalan menyusuri malam, berdiri menatap air suangai yang mengalir airnya deras.Di sini di atas jembatan tua ini. Angin sepoi-sepoi menyerang tubuh ku. Aku berdiri menatap langit yang bertabur bintang, rasanya tak ada yang penting bagiku sekarang. Perlahan-lahan aku berjalan menaiki jembatan dan berdiri bebas. Menutup mata dan tinggal beberpa senti lagi aku akan terjatuh. Aku perlahan mengangkat kaki kananku dan…?
Tiba-tiba sosok pemabuk yang menodong pisau padaku ku tadi, menarik baju ku dan menampar pipiku kuat, keras sekali tamparannya
“ini uang dan tas mu…!! Aku tak butuh..! Aku lebih baik mati kelaparan dari pada melihat wanita lemah sepertimu” ia menarik ku turun dan melemparkan tasku di atas tanah
 Dan ia berlalu pergi.  Aku bangkit dan meraih tas ku kembali menyusuri tangga turun. Sosok yang tadi, pria mabok yang ternyata seumuran denganku, di sekujur tubuhnya penuh tato dan tubuhnya kurus sekali. Ia berdiri termenung pada tangga jalan. Sesekali menatap langit dan menghapus air matanya.
“boleh aku berdiri disini bersamamu? Aku menyapanya tapi ia hanya terdiam membisu”. Aku berdiri di sampingnya menunggu sampai kapan ia akan berdiri pergi dari sini.
 “kenapa kamu menamparku..?
 Kenapa kamu menolongku?
 Aku sudah tak berarti lagi. Pria yang aku cintai bertahun-tahun mencapakanku dengan tuduhan yang tak jelas, aku memulai pembicaraan”.
 Dengan sesekali menghapus air mata akibat dari gejolak di hatiku. “apa kamu akan terdiam atau aku telah mengusikmu?”. Aku melihatnya dan ia balik menatapku tajam. Aroma alkohol dari mulutnya jelas tercium saat ia bicara “maafkan aku..? Sungguh aku minta maaf, menurut ku kamu terlalu lemah, masalah apapun jangan berhenti untuk bangkit, bukankah setiap hari kita merasakan hal yang sama? Ia berkata sembari mengulurkan tangannya yang ternyata cuma 2 jari yang utuh, Aku mulai merinding karena sedikit takut. Sehingga aku tak membalas uluran tangannya. “kaget ya mbak?. Jari ku yang lain di potong oleh preman karena persaingan. Hidup di jalan seperti ku ini, hawanya sangat dingin dan penuh nyali besar, bahkan untuk tertidur saja itu sulit. Harus rela kedinginan, Di gigit nyamuk dan tempat ku tertidur hanya di emperan toko, Dan kalau sudah penuh oleh gembel lain, terpaksa aku harus mencari tempat lain yang menurutku layak. Maaf bila aku mengambil tas mu. Aku butuh makan, sudah 3 hari aku tidak makan, sisa makanan di tong sampah sudah membusuk karena hujan kemarin, Biasanya aku mencari secerca kenikmatan disana yang masih bisa layak ku telan, rasa lapar tak akan bisa membuatmu jijik. Setiap hari saat membuka mata yang anda ingat hanya perut dan perut.”Ia terdiam dan mengalihkan pandanganya luas menembus angkasa, langit malam ini. Aku hanya terdiam terpaku dengan mulut terbuka, betapa aku tak percaya setengah mati. Bagaimana mungkin seandainya sekarang aku berada di posisi ini? Aku yang terlahir dari keluar sederhana namun penuh kehangatan, uang bukan masalah, aku hanya meminta tanpa pernah tahu bagaimana orang tuaku mendapatkannya, semuanya cukup, tapi ternyata itu bukan kebahagian, itu nafsu sesaat, Aku memang memiliki segalanya tapi tidak dengan cinta, selalu ada yang kurang setiap hari. Tanpa kebersaman kita mati. Terutama pentingnya mensyukuri apa yang ada. Aku menarik tangan dan menjabat tangannya kuat-kuat yang tinggal dua jari meski sedikit risih karena aneh menurutku. Aku memberinya sedikit pelukan hangat. Ia tersenyum memamerkan mulutnya yang bau alkohol dan bau wc umum. Aku menyerahkan tas ku padanya. “ambil lah.. Aku tak mengenalmu tapi kamu memberi ku banyak alasan hari ini, kenapa aku harus kuat menghadapi hidupku sekarang dan nanti, bukankah hidup harus tetap di jalani. Aku sadar masih punya segalanya, bodoh sekali cuma karena cinta semangatku hilang, belum tentu ia jodohku, belum tentu ia juga memikirkan hal yang sama, rasa sakitku”. Aku berlari menuruni tangga meninggalkan ia sendiri yang masih terdiam menatap kembali langit yang menampakan bintang-bintang kecil yang berkelip dengan jenaka, seakan hari ini tak akan berlalu.
Ketika aku akan menapaki jalan. Kekasihku sedang berdiri di depanku dengan bunga mawar banyak sekali di tangannya, sementara di belakangnya orang tua dan adikku yang berdiri di samping mobil, kami saling terdiam untuk beberapa saat ia memulai.“maafkan aku sayang, ternyata aku yang salah menilaimu, makasih ya?, sudah membuat hidupku lebih berharga karena ini. Ia menyerahkan bunga dengan sebuah diary usang punyaku, yang entah dari mana ia mendapatkannya. Tapi disinilah aku bisa menulis menitikan setiap masalah, rasa banggaku atas kekasihku ini. Aku memeluk erat tubuhnya lama kami terdiam di iringi tangis dan canda menghiasi malam, sementara kedua orang tuaku tersenyum senang. Aku mengajak kekasihku menaiki tangga untuk mengenalkan pada orang yang mengajarkanku banyak hal. Khususnya arti bersyukur.Kami menapaki jalan tangga dan melirik sekeliling dan mencari namun sosok itu hilang tak berbekas? Kami turun dan kami pergi ke mall bersama orang tua dan adik ku untuk merayakan ulang tahunku.
Walaupun tetap aku tak dapat sepeda motor karena tak lulus tapi bukan berarti kehangatan ini harus berakhir

CITAREM (CINTA REMAJA)

haloo teman teman semu kembali lagi dengan ane kali ini kepala pusing ini mengingat seseorang akan tetapi gar tidak terjadi namanya baper ala ke kinian alias beban persaan ya ane sempatin beberapa jam buat nulis nah ini lah hasil tulisan ane semoga baik untuk di publikasikan ya kalau ada kata yang ga tepat mungkin itu kesalahan ane hehehe berikut cuplikannya

 CINTA


Dewa namanya. Pemuda yang semasa kecilnya sempat merasa hancur karna pergaulan. Saat itu dia masih berumur 15 tahun. Saat itu dia telah menginjak bangku kelas 2 SMP. Dia memiliki seorang pacar yang cukup nakal. Begitu juga dengan teman-temannya yang membuatnya menjadi anak yang gak karuan. Sering dia di panggil guru untuk mendapatkan hukuman di sekolahnya.
Satu tahun yang lalu di kelasnya kedatangan murid baru yang pendiam. Awalnya dia tidak tertarik. Namun ketika dia diam-diam mengamati gadis itu. Dia merasa temannya yang satu ini beda dengan gadis yang lain. Dia tidak banyak omong. Cara berpakainnya sangat simple sekali.

Setiap hari gadis itu selalu membawa sebuah buku yang tebal namun sudah sangat usang. Dewa sangat penasaran pada saat itu. Rasa ingin membacanya sangat tinggi. Dia penasaran apa sih yang di tulis, serius amat, hem.. dia mencoba mencari celah untuk mengobati rasa penasarannya.

Istirahat tiba, semua para siswa segera beranjak ke kantin kecuali Dewa. Ternyata dia punya rencana. Perlahan dia mendekati bangku gadis itu. Celingukkan, berhati-hati, sambil mengendap-endap. Dengan segera dia membukanya dengan hati-hati. Membolak-balik bukunya, dan membuka sampul buku itu. Tertulis nama gadis itu “Azzat Khasinah”. Nama yang indah gumamnya. Membalik halaman berikutnya, tertulis sebuah cerita yang di beri judul “ Mengapa Harus Luna Yang Mengalah”. Dewa mulai membacanya paragrap demi paragrap hingga tak terasa bel untuk masukpun berbunyi.

Dia segera meletakkan bukunya di tempat semula. Semenjak kejadian itulah dia merasa kagum pada gadis itu. Tak banyak yang ia tau tentang gadis itu. Ternyata dia hebat juga ya.. bisa bikin cerita kayak gitu. Aku salut sama kamu nina. Dari situ pula dia baru mulai untuk mengemal gadis yang bernama nina itu.

Nina memiliki sahabat yang tinggal serumah dengan Dewa. Sering sekali Nina main ke sana. Suatu ketika saat seisi rumah pada pergi. Tinggalah di rumah uchi (sahabat Nina) dan Dewa di rumah. Uchi diminta Nina untuk segera mengunjunginya di rumah. Sesegera mungkin Nina menghampiri Uchi kerumahnya. Di sana mereka berdua curhat di kamar sambil bersenda gurau. Yah.. sedikit gossip juga. Hehe

Dewa penasaran apa sih yang di omongin sama mereka berdua?. Dia mengintip ke dalam kamar. Bahkan sok mencari perhatian. Pada saat itu pintu kamar uchi tidak di tutup. Dewa lewat depan kamar terus berkali-kali sampai dia nongolin kepalanya di ujung pintu.
“chi.. kenapa sih Dewa dari tadi kayak gitu? Gak punya teman?” Nina lama-lama risih juga. “ biasa dia emang kayak gitu.. tapi kasian juga sih sendirian..” sambil smsan. Beberapa detik kemudian dia muncul lagi dan berkata “ lagi ngomongin apa sih? Serius amat?”. “ ah.. gk usah ganggu!” Uchi pun melemparkan bantal ke mukanya. “ok.. aku gak ganggu” langsung pergi sambil merengut.
“ets.. kok ngambek? Aku sama Uchi temenin deh kalo gitu..”. bangkit dari tidurnya dan menarik tangan uchi. “liat tv bareng yuk..!!” Nina mengajaknya. Kemudian mereka bertiga melihat tv bersama seperti layaknya keluarga sendiri.
Tiktok..tiktok..tiktok.. suara hp Nina tanda sms. Nomer nyasar. Ada-ada aja orang sekarang ini sms pakek nyasar lagi. Gumam Nina. “cewek kenalan dong”. Nina Cuma jawab “sapa ya?”. Kemudian di jawab “penggemarmu”. Dengan suara keras Nina berkata” ih.. nora’ banget sih nie sms..”. tanpa menjawab smsnya.

Kemudian hpnya berdering lagi. “nana nina..”. Nina cuwek! Dia tidak membalasnya lagi. Beberapa detik kemudian berbunyi lagi dengan sms yang sama “nana nina..”. terus menerus sampai sampai 20 lebih kotak masuk dengan sms yang sama. “ apaan sih?”.
“kenapa na..?” uchi bertanya. “ nomer siapa nie? Kamu tau nggak?” menunjukkan nomernya. “oh.. ini sih nomernya ed...”. Dewa menghentikan jawabannya dengan mencubitnya. “nomernya siapa?” melotot. “ maap gak tau”. Sambil meringis. “ya udah aku pinjem hp mu ngecek nomer!” “ets gak boleh aku lagi smsan”.
Dewa semenjak kagum pada gadis itu dia sering memperhatikannya. Tapi Nina sama sekali tidak menyadarinya. Karna dia tau kalo Dewa udah punya cewek. Emang sih ganteng tapi percuma ganteng kok uraan gk jelas.

Selang beberapa tahun kemudian...
Sekarang dia telah menginjak bangku SMA. Umurnya kini genap 17 tahun. Dia sudah bukanlah Dewa yang dulu. Dia telah menjadi seorang yang pintar, berprestasi, dan tentunya di sukai banyak cewek. Dia sempat menyatakan cinta pada mantan pacarnya namun di tolak. Dan dia mulai mengenal satu cewek yang pinter juga cantik, berpertasi, pokoknya segalanya. Namanya Desy.
Desy anak yang baik, Ia berhasil merenggut hati Dewa. Padahal Desy masih merupakan saudaranya sendiri. Yah.. lebih tepatnya anaknya budhe yang terakhir. Bahkan kebetulan sekali Dewa dan Desy merupakan satu patner yang sama-sama mengabdi di madink. Semenjak itulah Dewa mulai tertarik dengan Desy.

Suatu ketika dia di tawari oleh kepala sekolah menjadi ketua bulletin. Bulletin itu baru saja di buat dia telah mengumpulkan beberapa anak untuk di jadikan satu tim dengannya. Tanpa piker panjang Dewa mengambil tim bulletin itu dari anak madink sendiri. Edisi ke satupun telah terbit. Dia mulai teringat dengan masa lalunya yang sempat menyukai Nina.

Dewa mengajak Nina untuk gabung dengannya. Seusai ujian Dewa menemui Nina yang sedang asik bersenda gurau dengan temannya. Dengan sepontan Dewa melontarkan niatnya tadi tanpa harus piker-pikir dua kali lipat.“ hey Nina! Em.. kamu mau gak jadi wartawan gabung sama timku?” sambil senyam-senyum gak jelas.
“wartawan? yang bener? Ah.. gk lucu lagi ngelucunya!” jawabnya ragu.
” Kamu taukan bulletin yang barusan di bikin sama anak madink? Nah nanti kamu jadi wartawan di situ. Gimana maukan?!” rada maksa.”oke.” jawab Nina setengah ragu. Kaya jelangkung tau! Tiba-tiba nongol gk jelas. Ngilangnya juga gk jelas.
“ok aku tunggu kerjamu!” dan langsung pergi berlalu. Sedang di situ Nina masih terdiam, tertegun, ngelamun. Dalam hatinya berkata gk salah alamat nie.. kenapa coba harus aku? Kan banyak yang pengen jadi wartawan kenapa musti aku. Aku lagi nggak mimpi kan?. Tau darimana dia kalo aku pingin jadi wartawan? Tawaran apaan nie.. gile rasanya pingin teriak yang keras banget bookkk..
“sssttt.. helo!! Kamu gk papakan Nin..?” mengayunkan badan Nina yang mulai melemas.

Serasa ada gempa bumi Nina langsung tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “ eh.. lu denger gk Dewa tadi bilang apa?”
“hahaha jadi gara-gara itu kamu ngelamun? Ciee selamat ya neng...”
“sumpah gk nyangka gue bisa jadi wartawan beneran, jadi gk sabar...”
Untuk memastikan kebenaran ajakan itu nina langsung mengirim pesan kepada Dewa pada malam harinya via hand phone. Melihat balasan dari Dewa yang melegakan hati tak sungkan-sungkan ia membuat kamarnya awut-awutan gk jelas. “ hooreee!!! Trimakasih tuhannn...” teriak-teriak tanpa memperdulikan seisi rumah yang di buat kaget olehnya. “hore! Hore! Hore!”
Dok dok dok. (Suara pintu kamar, yang gk kalah kerasnya sama suara Nina). “Nina?? Buruan tidur!!!udah Jam berapa ini sayaaanggg??”. “iyaa maaa...” menurunkan volume suaranya.
######

Semenjak itu Nina sering sekali sms Dewa. Dan mereka menjadi patner yang serasi. Dewa benar-benar menyukai cara kerja Nina.
Suatu ketika Nina di beri tugas untuk mewawancarai seorang guru yang bernama Bpk.Nurhandani. Dia bingung harus bagaimana? Karna sebelumnya dia belum pernah mewawancarai seseorang dengan resmi. Entah dia harus meminta bantuan siapa?.
Dengan sigap Dewa berkata “ sudahlah.. gk usah bingung ada aku.. nanti aku ajari.. wawancaranya entar aku temenin..”. nina sangat sungkan dengan tawaran itu. Dia memutuskan untuk mengajak teman yang lain saja. Dengan bijaksana pula Dewa mempersilahkan.“Sebelumnya kamu bikin beberapa pertanyaan dulu ya.. dikertas kosong. Nanti aku pingin liat dulu.. okey!” melangkahkan kaki meninggalkan Nina dengan memberikan senyuman manisnya.
Malam harinya dia segera membuatnya. Diterangi lampu duduk yang penerangannya tidak menyeluruh. Dia tetap semangat unuk membuatnya. Ditemani temannya Evi yang lagi tiduran sambil baca komik. “vie.. kamu nginep disini ya..” menari-narikan jarinya di meja belajarnya. “ boleh..” jawabnya singkat.

Tiktok..tiktok..tiktok.. suara hp Nina tanda sms baru. “ gimana udah buat?”. Eh... dari Dewa. Dengan semangat Nina membalasnya. “ ini lagi buat.. entar kalo udah selesai aku sms”. Kemudian langsung membuat lagi dengan perasaan hati yang begitu berbunga-bunga dan penuh semangat. Baru kali ini aku sesemangat ini, andai terus kayak gini pasti inspirasiku untuk buat cerpen jadi lancar dehh.
Beberapa menit kemudian. Nina mulai sms Dewa lagi “ kamu dimana sekarang? Gk pingin lihat hasil pertanyaan-pertanyaanya?”. Dewa membalas dengan cepat. “ Ini aku mau pergi ke masjid depan kompleks rumah kamu.. sekalian lihat hasilnya..” . Nina membalas smsnya dengan senyum-senyum kegirangan. “ ok! Aku kesana sekarang “. Nina mengajak Evi.
Di masjid hati Nina berdebar. Entah rasa apa ini? Terbesit dalam pikirannya kenapa Dewa tiba-tiba jadi gini ya.. kalo gini ceritanya bisa jadi gossip gak bener nih.. eh.. bukannya Dewa udah punya cewek ya.. udah ah.. Mengibaskan kedua tangannya di depan muka sejenak menghilangkan lamunannya.

Di masjid Dewa duduk bersama orang yang biasanya menjaga masjid itu. “ ya Alloh.. iki mau kate ketemuan tho mas.. yo wes tak tinggal wae.. ”. meninggalkan Dewa sendirian.
Dengan senyuman hangat Dewa menyapa Nina yang barusan datang. Dewa berkata “ lama banget.. ngapain aja?”. Nina hanya terdiam dan tersenyum.

Setelah itu Nina menunjukkan secarik kertas yang penuh dengan tulisan ruwetnya. “ gimana menerut kamu? Banyak salahnya ya?” sambil menggigiti kuku jarinya.
“ nggak kata siapa? Bagus kok! Tapi yang terpenting kamu harus bisa membuat pertanyaan dari sebuah jawaban.. ok!” melirikkan matanya dengan manis. Nina tersenyum.
“duduk sini, di sebelahku.. “.ajak Dewa namun Nina menolaknya dia memilih berdiri di sebelahnya.
“ hm.. habis ini mau kemana mau cari makan di luar yaaa..?”
“hmm. Iya. Eh udah dulu aku udah di tunggu mamaku nie”
“entar dulu ah, aku belum selesai niebacanya..”. Maksa.
“buruan! Keburu malem nie..” celingukan gk jelas waspada takut entar kalo ada yang tau.
“ya ampun neng, dari tadi juga udah malem kale. Hahahahaha”
“ih. Gk waktunya buat ngelucu. Udah ah bawa aja kertasnya”. GK SABAR
“bentar kok bacanya.”. beberapa menit kemudian. “nie bawa kertasnya” memberikan kertas lecek itu dengan lembut.
“ya udah aku pulang dulu...”. pergi gitu aja tanpa meninggalkan senyuman. SINIS
“oke. Hati-hati ya..”


Di perjalanan pulang Evi berkata “ Dewa so sweet ya..”. Nina menjawabnya singkat “ apanya yang so sweet? Biasa aja”. Jawab Nina spontan.
“ emang so sweet kok aku nggak pernah tau dia kayak gini..” melamun membayangkan apa yang barusan aja terjadi.
“eh.. mentang-mentang dia banyak yang ngefans trus lumayan ganteg juga jadi kamu mulai ikut-ikutan ngefans gitu.. huuuuu..”
############

Yupz.. hari pertama untuk wawancarapun tiba. Dengan tubuh yang gemetaran dia memberanikan diri untuk segera menunaikan pekerjaannya. Berkat dorongan dan dukungan dari Dewa, Nina sangat bersemangat dan bertekat bulat.
Ketika wawancara di mulai dia bingung harus memulainya dari mana. Dengan mengucap kalimat “ BISSMILLAHIRROHMANIRROHIM “ hatinya tenang dan memulainya dengan santai.
Sepulang dari wawancara Nina segera menekan tombol-tombol hpnya untuk segera sms Dewa. “Ewa.. aku dah selesai wawancara.. hm.. lega rasanya” sambil senyum-senyum sendiri. “ok! Jadi kapan kamu mau nyusun hasil wawancaranya?”. Nina menjawab penuh semangat “ Secepatnya!”.
Hari demi haripun telah berganti. Nina telah mengerjakan tugasnya tepat pada waktunya. Dewa pun segera meminta hasil wawancaranya. Sepulang sekolahlah Nina membarikannya pada Dewa.

Dari kejauhan terlihat Dewa yang melambai-lambaikan tangannya seraya memberitahukan jika ia akan segera menemuinya di depan kelas Nina. Dengan bergegas, jantung berdebar, dan dengan wajah yang tertunduk Nina menghampirinya denagn perasaan yang amat malu. Namun tak ada pilihan lain. Walau banyak sekali teman-teman yang ada saat itu tak menghalangi langkah mereka berdua.
Nina mengulurkan tangan yang membawa secarik kertas bergaris yang akan di berikan pada Dewa. Dengan segera dan lembut Dewa menjabut kertas itu dari tangan Nina. “ Makasih ya.. “ tak lupa Dewa meninggalkan salam senyum-nya. Nina hanya menjawab “ ya “ dan segera meninggalkan Dewa yang masih tetap berdiri tertegun.

Perasaan Nina mulai kalang kabut. Saat melangkahkan kaki memasuki kelas teman sekelasnya menyorakinya. Wajahnya pun mulai terlihat kemerah-merahan. Menahan malunya. Untungnya teman-teman Nina tidak menganggapnya serius. Mereka hanya mengira,mereka adalah patner kerja. Padahal jika mereka bisa saling jujur semua masalalu akan menjadi awal kisah cinta mereka.

Keesokan harinya di kelas Nina di tanya Alfi teman sebangkunya “ kamu sekarang deket sama Dewa ya...” Nina menjawabnya dengan santai “ eeeeeem.. bisa di bilang gitu sih.. tapi aku deketnya nggak lebih dari sepasang patner kok!..”. alfi semakin penasaran “ patner apa? “. Tanpa piker panjang Nina menjawab “patner bulletin..”
“ Sebenarnya aku bingung al..” menatap wajah alfi serius. “ aku bingung sama sikap Dewa kenapa akhir-akhir ini dia agak perhatian gitu.. nggak tau kenapa dia selalu mau aku mintai bantuan.. lagian di kelas ini kan banyak ya yang pingin jadi wartawan, tapi kenapa Cuma aku yang di ajak gabung sama dia? Bukannya aku GR sih.. tapi ini emang kenyataan. Padahal aku sebelumnya belum pernah ikut madink.. sedangkan patnerku yang lainnya bener-bener udah berpengalaman “.
“ sebenernya aku udah lama nyimpan rahasia ini!”. Alfi membalas tatapan muka Nina dengan tampang serius. “ Nin.. sebenarnya Dewa suka sama kamu ss...” Nina menghentikan ucapan Alfi. “ nggak al.. gk mungkin...” mengeleng-gelengkan kepalanya. Dengan tegas Alfi menjawab “ sudah dari dulu. Dia sendiri yang bilang ke aku! Udah sekitar 3 tahun yang lalu”.

Alfi menatap mata Nina sekali lagi dengan serius. “Nin.. Dewa dulu pernah baca buku kamu yang sering kamu bawa ke sekolah. Kamu masih nyimpen bukunya kan” mencoba meyakinkan Nina.
“buku yang mana ?” masih bingung.
“buku yang biasanya kamu buat nulis cerita-cerita kamu. Masak udah lupa?. Nah dari situ dia mullia kagum sama kamu. Kalo memang kamu gk percaya okelah. Kamu bisa Tanya sendiri.”
Dengan hati berdebar, serasa jantung sejenak berhenti berdetak, raut muka yang serius menjadi wajah yang shok!. Seraya dalam hati Nina berkata. “ gk mungkin! Kalo emang bener gitu kenapa dia selama ini menyembukannya dari aku? “.

Alfi tidak berkata banyak. Dia seakan-akan benar-benar ingin meyembunyikannya dari Nina. Nina menganggap ini hanya lelucon yang di buat Alfi dengan Cuma-Cuma. Walau sebenarnya dalam hati Nina begitu senang. Alfi mengingatkan suatu hal bahwa jangan sampai Dina (temen sekelas yg suka sama Dewa) itu tau masalah ini. Nanti Nina bisa terancam.
############

Suatu ketika saat santai-santai di balkon kamar sambil minum teh makan biscuit Nina di kejutkan dengan sebuah info di sebuah majalah terkenal. Infonya “ KIRIMKAN ARTIKEL KAMU YANG SESUAI DENGAN TEMA YANG TELAH DI TENTUKAN, CANTUMKAN NAMA DAN NO. TELPON, JIKA BERUNTUNG ARTIKEL ANDA AKAN DI MUAT DAN MENDAPATKAN UANG SEBESAR Rp.350.000”.
Uhuk..uhuk..uhuk.. Nina tersendak teh. Dengan senangnya lonjak-lonjak kayak kepiting kepanasan, ia melonjak-lonjakan tubuhnya kekanan dan kekiri. Hem.. bisa minta bantuan Dewa nih.. hehehehehe.. rasanya gk sabar mau ketemu dia di sekolah.

Disekolah pada jam istirahat Nina menunggu Dewa lewat depan kelasnya namun hingga bel masuk berbunyi dia tak kunjung datang. Dengan wajah yang tertekuk Nina kembali masuk ke kelas dengan kesal. “hei! Kenapa neng cemberut aja” suara alfi yang cetar membahana. “nungguin Dewa lewat dari tadi, tapi gk lewat-lewat.. kesel deh...” (melipatkan kedua tangannya di dada).
“cieee.. napa gk sms aja?” sambil nata mejanya dari buku-buku yang kesana kemari. “hem.. entar malem aja deh kalo gitu..”

Tepat pada malam itu Dewa sedang nonton tv sendirian di rumah om_nya, sambil makan kacang minum kopi dan nggak lupa rokok yang sudah siap di hisab. Dia punya cewek baru namanya Desy. Sedikit lebih tua sih dari Dewa. Desy kuliah pada malam itu jadi nggak ada smsan pada malam itu. Tapi rasa galau sirna karna Nina sms Dewa dengan pertanyaan yang jarang di lontarkannya.
“Ewa... aku boleh minta tolong nggak”. Kalimat sms pertama. Dengan bergegas Dewa menjawabnya. “boleh apa?”
Dibalasnya lagi, “ aku pengen ngirim artikel ke sebuah majalah. Bantuin ya..”

Dewa membalasnya tanpa piker panjang dan harus dua kali lipat. “oke. Kapan?”
“belom tau.. aku enaknya konsultasi sama siapa ya..?”
“em.. sama Pak Atok aja..”
Dengan ragu dan tak percaya diri Nina bertanya “ kira-kiara aku bisa nggak ya? menurut kamu gimana?”
Dewa memberikan solusi “selama kamu sungguh-sungguh ingin menggapainya dan terus berusaha aku yakin kamu pasti bisa.. eh.. entar kalo berhasil dapet uang ya.. cieee”
Cekikian dalam hatinya “kikikikikiki” sambil megangin hpnya erat-erat takut ada tangan penasaran yang pengen baca smsnya.. “he! Kenapa nin.. ketawa ketiwi nggak jelas?”. Nina tidak menghiraukannya. Lanjut ngetik smsnya. “ hehe yupz.. entar bagi dua deh..”

Dalam hati Dewa “ wah.. tawaran yang Cuma-Cuma nih.. hehehe” untung saja waktu itu di rumah sedang tidak ada orang. Klik balas “ oke. Gampang lah..”
“tapi benerankan kamu mau bantu aku..”
“ yupz.. enak lho.. bisa dapet uang..” nyengir-nyengir gak jelas
“ye.. kalo lagi bahas uang aja kamu langsung semangat..!”
“ aku semangat lihat semangatmu bukan persenannya”
“ yakin loe.. emang gimana coba semangat ku?” penasaran.
“ AL INSAANU SIRRI WA ANA SIRRUHU.. pahami sendiri”

Kalimat apaan nie... gk paham gue.. baru denger.. susah deh kalo musuh ahli Nahwu.. bodo.ah.. “ lagi smsan mas bro!”
“ nggak nie..”
Yah .... smsan berahir begitu dingin. Nina takut Dewa ngomong yang enggak-enggak. Takutnya entar di sangka Nina ngerusak hubungan orang-lain lagi. “oh.. my got..”
Semalaman Nina gak bisa tidur dia terus membolak-balik kata-kata yang barusan dia dapet.

Esok harinya di tempat kursus Nina tanya sama Alfi sahabatnya apa arti bahasa arab yang baru di kasi Dewa kemarin malam. Dengan segera alfi menjawab “kayaknya sih.. diamnya manusia itu adalah diamku”.
“yang bener aja.. apaan nie, aku tetep gk paham.. huft..” menghela nafas dan langsung meninggalkan Alfi .
Nina terus mencari makna yang terkandung dalamnya. Hingga dia adakan wawancara di berbagai guru nahwu maupun temen-temen yang lainya. Dan sekaligus dia mengerjakan artikel yang akan di muat di majalah. Dengan bantuan dari Dewa akhirnya artikelnya dimuat dan dia mulai menjadi patner kerja di majalah itu.

Hingga pada suatu saat akhirnya dia benar-benar mengetahui makna arti dari kalimat tersebut. “kenapa Dewa kasih aku kalimat ini? Aku tau sekarang kalo artinya manusia itu rahasia dan rahasianya ada padaku”
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Nina dan Dewa semakin akrab dan dekat. Padahal waktu itu Dewa udah punya pacar. Tapi entah mengapa Dewa lebih suka dengan Nina ketimbang pacarnya itu.

Bagi Dewa Nina itu orang yang bikin dia udah berubah menjadi lebih baik dari sekarang. Dewa ingin memilikinya sebelum di miliki lelaki lain. Entah dari mana perasaan itu muncul. Yang jelas untuk saat ini dia benar-benar menyukainya. Dan dia akan segera memutuskan pacarnya demi Nina.
Pada tanggal 10 juli Dewa menyatakan cintanya pada Nina. Tepat saat tanggal ulang tahunnya. Dewa mengudangnya diner di salah satu resto yang udah di boking dari kemaren. “ nina maukah kau menjadi pacarku “. Ia menyatakannya dengan membawa kalung liontin yang di dalamnya terdapat foto mereka berdua. Tanpa pikir panjang Nina pun menerimanya.

Kini mereka telah menjadi sepasang kekasih. Meski banyak yang mencaci Nina dan berusaha merusak hubungan mereka, tapi mereka tetap saling percaya. Impian Nina untuk menjadi penulis akhirnya terwujud berkat bantuan dari Dewa dan tentunya juga berkat Tuhan Yang Maha Esa. Dari cinta yang diberikan Dewa, Nina mulai banyak belajar. Menjadi lebih dewasa dan mengerti apa arti hidup ini.

Mungkin ini akhir kisah mereka. Yang pada akhirnya menjadi sepasang kekasih yang begitu romantis sekali. Nina berkata pada Dewa “ Dinding masjid saksi bisu pertama kali kita bertemu, saksi bisu yang hingga saat ini hanyalah kenangan. Awal menitih cita-cita, awal mewujutkan impian dan kini aku telah memilikimu. Tak meninggalkanku yang selalu butuh kamu. Kita akan tetap bersama di penghujung akhir cerita ini”

Sabtu, 04 April 2015

PERASAAN DAN PENASARAN








ini postingan ku waktu jadi angota jurnalistik SMP ini karya terakhir ku waqtu saat 
SMP  2 GUNUNG TALANG KABUPATEN SOLOK
==========================================
 ***
“Kepada seluruh anggota inti OSIS, agar segera berkumpul di sekretariat OSIS. Terimakasih.” Suara pengumuman itu menggema di setiap sudut sekolah melalui alat pengeras suara. 4 sekawan yang sedang menikmati makan siangnya, langsung menghentikan pembicaraan yang sedang berlangsung seru itu. Mereka segera menuju ruangan OSIS yang terletak di depan kantor kepala sekolah.
Mereka adalah Abel, Karin, Meta, dan Nadya. Abel, seorang gadis yang sederhana. Ia selalu bisa menyelesaikan sebuah masalah dengan kepala dingin. Rasa sosialismenya yang tinggi, membuat hampir semua orang di sekolah menyukainya. Ia mau berteman dengan siapa saja, tanpa melihat status sosial.
Karin, komentator yang cerewet. Kebiasaannya adalah mengomentari apa saja yang dilihatnya. Tapi baiknya, omongannya selalu sesuai dengan apa yang terjadi, ia orang yang jujur.
Nadya adalah seorang terpopuler di sekolah ini. Ia tidak hanya didukung oleh parasnya yang menawan itu, tapi juga dengan kepintaran dan kelancarannya berbahasa inggris.
Lain halnya dengan Meta, gadis pendiam yang terkenal dengan sifat cueknya. Ia lebih senang menghabiskan waktu luangnya untuk menulis. Setiap karyanya, selalu saja dimuat dalam majalah sekolah. Tapi, melalui perbedaan itulah mereka melengkapi satu sama lainnya.
Sesampainya di ruangan osis, sikap Meta agak sedikit aneh. Ia memandangi sekelilingnya. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil dalam ruangan ini. Tapi ia segera melupakannya saat Abel sedikit berdehem. Saat  ini, hanya ada mereka berempat di dalam ruangan. Vino, ketua OSIS tidak dapat menghadiri rapat karena ia harus mengurusi hal lain. Sedangkan pembina OSIS, juga sedang menghadiri rapat dengan kepala sekolah tentang acara ulangtahun sekolah yang akan diadakan 2 hari lagi. Maka dari itu, Abel ditugasi untuk memimpin rapat dalam membuat proposal dan menyusun acara ulangtahun tersebut.
“Oke guys. Sekarang kita mulai pekerjaannya. Biar semuanya cepat beres, kita bagi tugas aja ya. Karin, lo bacain acara apa aja yang bakalan ditampilin nanti. Meta, lo catat apa yang dibacain Karin. Nadya, susun daftar tamu yang akan hadir, sekalian bikin konsep pamfletnya. Gue yang ngetik proposal.”
“Yaelahhh, si Vino nyari masalah aja sih, pake ga dateng segala. Ribet nih kerjaan jadinya.” Nadya mengeluh sambil menggembungkan pipinya.
“Sabar Nad, semangat dong. Besok tuh kita serbu si Vino rame-rame” hibur Karin singkat.
Meta hanya tersenyum, pertanda ia setuju dengan pendapat Karin. Mereka mulai fokus melakukan pekerjaan yang mendesak itu. Sambil bekerja, Meta tetap mengedarkan sudut matanya keseluruh ruangan.
Setelah 20 menit bekerja, Karin ambil suara. Ia minta izin ke toilet karena panggilan alam. Meta memandang Karin sampai punggungnya menghilang. Ia kembali memandangi sekeliling. Perasaannya mulai tidak enak. Entah mengapa, ia juga tidak tahu. ‘Ada yang aneh disini.’ batin Meta gusar.
Setelah keluar dari toilet, Karin tersentak ketika seperti melihat seseorang yang lewat begitu cepat. Ia memejamkan matanya, kemudian menarik nafas panjang. Sontak, langsung saja ia berlari kembali ke ruangan OSIS. Ia bingung, apa yang dilihatnya tadi?
Gue…tadi gue…ngeliat apa? Apa mungkin…gue…bisa…ahh, ga mungkin! Pasti cuma halusinasi aja. Itu cuma ada pada keturunan laki-laki keluarga gue.’ Batinnya sambil terus berpikir dan membuatnya resah.
Sampai di pintu ruangan OSIS, Meta langsung memandangi Karin dari atas sampai ke bawah. Ia melihat ada gurat kekhawatiran dalam diri Karin. Abel yang memperhatikan mereka, langsung bertanya, “Ta, lo kenapa? Kok aneh gitu. Lo juga kar, pucet banget.”
Hah? Hehe ga apa-apa kok.” Jawab Meta cepat.
I…iyaa ga ada apa-apa kok.” Karin mengikuti sambil sedikit tersenyum.
Karin kembali duduk di depan Meta. Mereka saling berpandangan, sibuk dengan pikiran yang berkecamuk dalam otak mereka. Abel masih tetap memperhatikan mereka, bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Nadya tetap fokus dengan pekerjaannya.
Setelah semuanya selesai, mereka membereskan peralatan dan bersiap-siap pulang. Saat akan sampai di gerbang sekolah, kembali Karin tersentak, membelalakkan matanya. Bayangan itu lagi, begitu cepat. Meta memegangi pundaknya. Bulu kuduknya merinding, merasakan suatu hawa aneh. Dingin.
***
Malam harinya, di sebuah rumah besar yang terkesan mewah, Karin, gadis berambut panjang itu masih memikirkan tentang apa yang tadi dilihatnya di toilet dekat aula sekolah. Bayangan itu nyata, tapi begitu cepat. Apakah benar ia mempunyai kelebihan yang sama dengan kakak laki-lakinya? Tapi menurut cerita yang ia dapatkan dari ceritanya, kemampuan itu hanya ada keturunan laki-laki keluarga Wibowo. Karin menghela napas panjang, ia bingung. Sangat bingung. Ia memandang langit-langit kamarnya sambil terus memikirkan hal itu sampai ia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Meta melirik jam dinding di kamarnya, sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB, tapi ia masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih fokus pada kejadian di ruangan OSIS tadi siang. Setelah merasa bosan, ia beranjak menuju kamar mamanya. Ia harus membicarakan ini pada mamanya.
“Ma…meta boleh masuk?” Tanya Meta seraya mengetuk pintu kamar mamanya.
“Ya, sayang. Silahkan.” Meta membuka pintu itu, dan segera menghampiri mamanya. “kamu kok belum tidur? Sudah mau jam 11, besok kan mau sekolah?” Tanya mama Meta.
“Ehmm…Meta mau tanya sesuatu. Tapi, mama jawab jujur ya. Meta butuh penjelasan mama.”
Mama Meta mengeryitkan keningnya, “Memangnya ada apa sayang?”
“Tadi ketika berada di ruangan OSIS, Meta merasakan suatu hawa aneh, seperti merasakan kehadiran makhluk halus. Meta takut, ma.”
Uhmm....Ngg....Meta, mama pikir sudah saatnya kamu tau. Kamu memang mempunyai kemampuan untuk merasakan keberadaan makhluk halus, tapi kamu tidak bisa melihatnya. Hanya sekedar merasakan. Mama juga tidak tau kenapa bisa begini, tapi kamu tidak usah takut ya. Itu adalah kelebihan, supaya kamu lebih berhati-hati. Tetap minta perlindungan pada Allah, sayang.” Mama memeluk Meta. Meta terhenyak. ‘Berarti ada suatu misteri di ruangan itu. Gue harus cari tau, tanpa ngelibatin sahabat-sahabat gue.’ batin Meta.
***
Besok paginya, tidak seperti biasanya, Karin yang selalu cerewet daritadi hanya diam. Pandangannya menerawang, begitu juga Meta. Sibuk memikirkan kejadian kemarin. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja mereka. Ternyata itu Vino, cowok pujaan di SMA Tariga ini.
“Hallo girls, boleh gabung?”
Boleh dong, asal kita ditraktir.” Sambar Abel cepat.
“Traktir? Wah kebetulan banget. Gue juga niatnya gitu nih.” Jawab Vino lagi.
“Ah masa? Gaya aja tuh. Palingan kayak kemaren lagi, mau traktir tapi malah kita yang bayar semua makanan lo. Ga asik ah”
“Eh ini serius. Soalnya besok bakalan jadi hari istimewa buat gue. Mau ga?”
“Eciyeeee, istimewa. Apaan tuh?”
“Ada deh, besok pasti tau. Eh, Nad, lo cantik banget kalo dikuncir gini.”
“ASOYYYY ada yang muji-muji nih. Ada apa yaaa ehem” Abel langsung mencibir kearah Vino. Nadya yang dipuji malah malu-malu, ia menunduk. Vino tersenyum puas melihat ekspresi Nadya. Karin hanya tersenyum sedikit, lalu tiba-tiba membelalakkan matanya. Meta langsung mengarahkan matanya ke arah Vino, seperti ada seseorang yang berada di belakangnya. Tak disangka, tiba-tiba Karin pingsan. Mereka kaget, langsung menuju UKS.
Abel dan Nadya menunggu Karin sadar dengan perasaan gelisah dan cemas. Tidak biasanya Karin pingsan. Bahkan ini adalah pertama kalinya Karin pingsan di sekolah. Meta tidak ada disini, ia sedang berada di ruangan OSIS. Ia yakin, apa yang dirasakannya berhubungan dengan pingsannya Karin. Benar-benar suatu masalah. Ia harus segera mengetahuinya, ia tidak ingin Abel, Nadya, dan Vino menjadi korban selanjutnya. Cukup Karin sekali ini saja.
Setelah 20 menit berkeliling, Meta tidak merasakan hawa itu lagi. Ia putus asa, memutuskan untuk kembali ke UKS saja. Saat Meta sampai di UKS, Karin sudah sadar. Mukanya pucat, pandangannya masih kosong. Raut wajah Nadya sangat panik, ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Abel hanya diam, berusaha mengajak Karin bicara.
“Kar, ngomong dong. Lo kenapa? Jangan ngelamun gitu.”
Karin hanya diam.
Saat Meta bertanya, Karin memejamkan matanya. Sepertinya, ia sudah benar-benar kembali normal.
“Karinnnn, lo kenapa? Ayo cerita”
“Gue, gue…ahh ga penting.” Jawab Karin menahan air matanya.
“Kar, please lo cerita ke kita. Ada apa? Lo kenapa?” desak Abel.
Lima menit mereka diam, berpikir tentang peristiwa ini. Perlahan, Karin mulai bicara.
“Guys, gue…gue…mau ngomong sesuatu. Tapi kalian jangan jauhin gue ya?” Tanya Karin meyakinkan.
“Pasti lah kar, kita bakalan selalu bersama. Ayo cerita.”
Gue…punya…kemampuan ngeliat…makhluk halus. Dan…tadi gue, ngeliat…seseorang…di belakang Vino…orang itu…juga gue liat kemaren…pas dari toilet dan pas kita mau pulang.” Karin menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah.
Semua yang mendengarnya membelalakkan mata. Kecuali Meta, ia tersenyum. Karin bingung, berusaga mengartikan senyum Meta itu.
“Tadinya gue berpikir kalo gue bakalan nyelesaiin misteri ini sendiri, tapi setelah kita tau kalo Karin bisa ngeliat ‘mereka’, gue pikir ini bakalan lebih mudah kalo dipecahin sama-sama. Kemampuan Karin bisa digabungin sama kekuatan gue buat ngerasain dimana ada ‘mereka’. Gue yakin, ada yang ga beres di sekolah kita ini, dan…gue bingung. Kenapa Vino diikutin orang itu?”
Abel, Nadya, dan Karin langsung tersentak dengan wajah penuh kebingungan. Mereka seperti berada di dalam sebuah mimpi, masuk ke dalam putaran cerita penuh misteri ini. Seseorang yang mengikuti Vino? Apa maksudnya?
***
Hari ini acara ulangtahun sekolah akan diselenggarakan. Abel, Karin, Meta, dan Nadya yang bertugas sebagai panitia sudah berada di sekolah. Mereka datang pagi seperti ini, karena mereka harus melanjutkan sedikit dekorasi pada pentas yang akan digunakan nanti.
Saat sampai di depan pentas, serentak semuanya ternganga, mata mereka terbelalak tak percaya. Ruangan yang sudah mereka dekor dengan indahnya, sekarang menjadi hancur berantakan. Kursi-kursi tergeletak dimana-mana tak beraturan, meja-meja patah, dan pentas itu…siapa yang menghancurkan semuanya? Nadya berteriak histeris. Meta langsung mengedarkan pandangannya ke semua sudut. Karin memejamkan matanya, merasa takut. Abel berjalan perlahan menuju sebuah meja di atas pentas. Di atas meja itu, terletak setangkai mawar merah, dengan sebuah kertas kecil.
“Aneh, semuanya berantakan, tapi bunga dan kertas ini tidak.” Lirih Abel pelan.
Gue takut guys! Ini bener-bener misteri, gue takutttttttt!”
Coba baca suratnya, Bel.” Pinta Meta juga pelan.
TO : My lovely girl, Nadya.
Nad, mungkin saat ini lo lagi baca surat ini dengan perasaan takut, tapi lo harus yakin kalo gue bakalan selalu ada buat ngelindungin lo, meskipun lo ga ngeliat itu.
Kita udah sahabatan lama, tapi gue ga bisa nyimpan perasaan ini terus. Gue harus bilang semuanya sama lo, kalo gue sayang sama lo. gue udah berusaha buat lupain perasaan gue demi kata “persahabatan” itu, tapi semuanya malah nyiksa batin gue.
Gue harap lo bisa nyadar, kalo gue cinta sama lo, sayang sama lo, bukan sebagai sahabat, tapi sebagai seorang laki-laki dan perempuan. Gue janji nanti gue bakalan slalu ada di samping lo, tapi buat saat ini…gue bener-bener minta maaf gabisa langsung nyatain perasaan gue ke lo, soalnya gue ga diizinin ngomongin ini langsung.
Nadya, would you like to be my girl?
With love,
Vino.
Nadya terisak, berteriak, berusaha mengerti tentang apa yang terjadi. Abel, Karin, dan Meta ikut mengeluarkan menangis. Mereka berpelukan, merasa benar-benar di alam mimpi. Mawar putih dan surat Vino…tapi dimana Vino?
“VINO DIMANAAAAAA? DIA DIMANA? GUE JUGA SAYANG SAMA LO VIN, LO DIMANA? GUE BUTUH LO, AYO TEMUIN GUE. GUE TAKUT DISINI VIN, JEMPUT GUEEEEE!” Nadya berteriak histeris lagi.
Tiba-tiba Abel juga ikut berteriak, menunjuk sesuatu di bawah.
“Itu…itu darah siapa?”
Lebih baik kita ikutin sampe di mana tetes darah ini berhenti. Kita harus selesaiin misteri ini, secepatnya.” Komando Meta. Semua mengangguk. Karin membimbing Nadya untuk melangkah. Tetesan darah tersebut menuju aula sekolah. Saat di pertengahan jalan, tiba-tiba Abel jatuh. Kembali Nadya berteriak, Karin memejamkan matanya. Meta menenangkan teman-temannya. Apa lagi ini?
Tidak beberapa menit setelah Abel jatuh, ia membuka matanya, dan spontan langsung berlari menuju aula. Meta, Karin dan Nadya kaget. Abel kenapa? Kesurupan? Ini sangat aneh. Mereka segera berlari menyusul Abel. Saat sampai di depan aula, Abel diam, menerawang. Meta bertanya kepada Abel tentang apa yang terjadi.
“Gue tadi ngeliat apa yang terjadi di sekolah ini. 2 tahun lalu, penjaga sekolah ini dibunuh karena akan membocorkan rahasia tentang korupsi di sekolah. Ia disiksa di dalam aula ini, dan kepalanya dipenggal, dan…disembunyikan di balik tembok ini. Tentang Vino…tadi pagi, sebelum kita datang, seseorang menusuknya dari belakang saat ia meletakkan mawar itu di atas meja. Lalu, Vino diseret ke dalam toilet. Hanya itu…yang aku dapatkan.” Abel mengakhiri ceritanya.
“Jadi, hubungannya dengan Vino?” Karin berusaha berkomentar.
“Kalian ingat, 2 tahun lalu papa Vino adalah kepala sekolah disini?” Meta berkata serius.
“Berarti yang membunuh penjaga sekolah itu…papa Vino? Dan, mayat penjaga sekolah yang penasaran itu membalaskan dendamnya pada Vino, anak dari orang yang membunuhnya?”
“Ya.” Jawab Abel singkat.
“Oh Tuhan! Kenapa harus Vino? Orang yang aku sayang, ini mimpi paling buruk yang pernah ada. Sadarkan aku dari mimpi ini, kembalikan aku pada keadaan normal, saat dimana aku tersenyum bahagia bersama dia, orang yang aku sayang!” Nadya mengigau. Ia terlalu shock dengan apa yang terjadi.
Abel dan Karin memeluk Nadya erat, berusaha menenangkan. Meta sudah menelepon kepala sekolah dan beberapa guru lainnya. Tak lama kemudian, kepala sekolah, guru-guru, dan siswa-siswi SMA Tariga sudah membanjiri aula, tempat dimana semua misteri itu berasal. Di sana juga ada mama Vino dan kakaknya. Papa Vino sedang berada di kantor polisi, sedang diintrogasi tentang peristiwa yang terjadi 2 tahun lalu. Ia mengakui semuanya, dan sekarang ia benar-benar sangat menyesal, kenapa harus anaknya yang mendapatkan balasan atas tindakan amoralnya? Kenapa bukan dirinya saja?
Mama Vino menangis bersama Abel, Nadya, Karin, dan Meta. Ini benar-benar tragedi yang ganas. Mereka masih belum percaya bahwa Vino bernasib tragis seperti ini. Tangis histeris mereka makin memuncak saat mayat Vino berhasil dikeluarkan dari toilet yang terkunci itu. Muka Vino lebam, dari perut, kepala, dan telinganya mengalir darah segar.
Kepala sekolah sudah memerintahkan orang untuk membongkar dinding aula tersebut, cukup lama sampai akhirnya benar-benar ditemukan sebuah kepala yang penuh darah beku. Sungguh, ini adalah peristiwa paling tragis yang pernah mereka alami. Mereka, gadis-gadis tangguh yang bisa menyibak sebuah misteri, perasaan cinta Vino pada Nadya, dan sepenggal kepala penjaga sekolah yang penasaran.
***

 
biz.